SURAT TUNTUAN P3KB BERSAMA MASYARAKAT

Mengacu pada hasil kajian yang dibentuk Pemerintahan Kabupaten Bekasi yang dipimpin oleh Prof. Sadu Wasistiono yang menghasilkan persetujuan dari 82% masyarakat untuk pemekaran Kab. Bekasi, dilanjutkan dengan Surat Keputusan DPRD Kab. Bekasi tentang Persetujuan Pemekaran no. 17/KEP/172.2/DPRD/2009 tanggal 15 Juli 2009 dan Surat Persetujuan Bupati Kabupaten Bekasi tanggal 15 Juli 2010 , selain itu dalam konteks akselerasi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, Panitia Persiapan Pemekaran Kab. Bekasi (P3KB) bersama masyarakat menyampaikan tuntutan, antara lain :

1. Mendesak dikeluarkanya Surat Keputusan Bupati tentang pemekaran Kab. Bekasi sebagai tindaklanjut Surat Keputusan DPRD Kab. Bekasi tentang Persetujuan Pemekaran no. 17/KEP/172.2/DPRD/2009 tanggal 15 Juli 2009.
2. Mendesak Bupati untuk membentuk Pokja Pemekaran.
3. Mendesak ditetapkanya anggaran untuk sosialisasi dan Pilkada Kabupaten hasil pemekaran
4. Mendesak untuk ditetapkannya Surat Rekomendasi DPRD Kepada P3KB sebagai wadah aspirasi masyarakat.
Demikian tuntutan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Bekasi, 7 Januari 2011

Sanusi Nasihun Komarudin Ibnu Mikam
Ketua Sekretaris

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Incumbent, Belum Tentu Menang!

Hingar bingar Pemilukada Kab. Bekasi nyaris belum terdengar. Memang sih masih dua tahun lagi. Tapi, jangan berpikir tidak ada gejolak. Semua pemain politik bergerak dengan kapasitas dan kemampuannya. Masing-masing nandur, mempersiapkan segala potensi.Mulai dari logistik hingga modal politik.

Bagaimana dengan incumbent? Wooow….ibarat nyawah, tanduran incumbent lah yang paling hebat. Bupati Sa’dudin kepada penulis pernah berkelakar, bahwa dia tidak akan mencalonkan menjadi Bupati lagi di periode mendatang. “Tapi hanya melanjutkan…..” diplomasinya.

Dan, jujur saya harus katakan bahwa incumbenlah yang paling siap untuk bertarung dalam pemilukada 2012.

Tapi, Apakah menjamin Sa’dudin kembali jadi Bupati Periode 2012-2017? Jawabannya BELUM TENTU!

Belum tentu pertama, selama Bupati Sa;adudin menjabat kinerja kerjanya dipertanyakan banyak pihak. Bayangkan, setiap anggaran ada saja dana yang tidak terserap. Tahun 2008, ada Rp. 283 Milyar. Tahun 2009 dana yang tidak terpakai Rp. 440 milyar. Tahun 2010, dana yang tidak terserap sebanyak Rp. 239 milyar.

Bahkan, kemarin tanggal 8 januari 2011, Bupati diprotes warga desa Lenggasari< Kec. Cabang Bungin. yang tak kunjung memperhtikan desa Lenggarhsari untuk membangun jalan.

Belum tentu kedua adalah konflik yang terjadi antara Bupati dan wakil Bupati. Setelah terpilih, kentara sangat bahwa keduanya tak lagi harmonis. Kata semanis madu hanya dibir saja. Janji tinggal janji. Yang ada hanya gigit jari. Bukan rahasia lagi, kalau wakil Bupati kerap curhat di mana-mana. Ia komplain kalau dirinya tidak lagi dipercaya oleh Bupati. Elum tentu

Belum tentu ke tiga adalah kelanjutan dari poin satu dan dua. Karena kinerja tak maksimal dan konflik internal dengan B2, kepercayaan publik pun meruap. Punah tak tahu ke mana. Dalam konteks ini, mesin politik tidak mampu me-manage. Mesin birokrasi apalagi. Politik mutasi terlihat sembaranagan. Ada yang baru dimutasi tiga bulan lalu, sekarang sudah dimutasi lagi. Ada yang kepala dinasnya pangkatnya jauh lebih frendah dari kabid. Terlihat sekali aroma kurang sedap. Ini Cuma akal-akalan untuk mencari modal tahun 2011.

Belum tentu ke empat adalah pengelolaan modal yang amburadul. Modal politik di internal partai kerap diwarnai dinamika. Walau pun di ruang publik, tidak terdengar.. Tapi banyak yang mulai antipati dengan incumben dari internalk partai.

Belum tentu ke lima adalah sikap incumben yang terlalu percaya diri. Tidak mau menerima kritik. Tidak mau menerima masukan. Team sukses hanya dari npartai dan tidak membuka ruang untuk masukan, kritikan atau saran. Pandangan-malah pandangan berbeda disikapi sinis. Hal ini diperparah oleh sekelompok orang dekat bupati nyang sikapnya ABUSE (Asal Bupati Senang. Sehingga, Bupati tidak mau belajar. Tidak mau usaha mempelajari.

Getolnya Sa’dudin ngurusi Pasiban (paguyuban Bekasi Banten) menjadi blunder. Tolakan muncul dari mana-mana. Bupati dianggap memanfaatkan aset rakyat untuk kepentingan kelompok dan golongannya. Jadi, incumben saja tak menjadi jaminan. Sehngga, yang lainnpun bisa mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Bekasi 2012. Hayo, jangan takut sama incumbet! [kim]

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Peta Kab. Bekasi Utara

Peta Bekasi Utara

Peta Bekasi Utara

Inilah peta BEKASI.

13 KECAMATAN DIANTARANYA AKAN MEMBENTUK KAB. BEKASI UTARA

1 Comment

Filed under Uncategorized

Kab. Bekasi Utara Terbentuk!

Kabupaten Bekasi Dimekarkan

Rabu, 15 Juli 2009 | 16:49 WIB

TEMPO Interaktif, Bekasi – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bekasi menyetujui agenda pemekaran wilayah. Pemerintahan baru yang akan dibentuk adalah Kabupaten Bekasi Utara, letak jantung kotanya di Kecamatan Tambelang.

Keputusan pemekaran wilayah itu disahkan dalam rapat paripurna Dewan, Rabu (15/7). Keputusan tersebut sesuai usulan panitia khusus (pansus) 50 yang membidangi masalah pemanfaatan tata ruang dan pemekaran wilayah.

“Kami merekomendasikan pemekaran wilayah segera dapat dilakukan,” kata Hidayatullah, juru bicara pansus 50 dalam rapat paripurna Dewan.

Terkait dengan pengesahan itu, pansus 50 merekomendasikan beberapa hal. Rekomendasi itu antara lain, mendesak Bupati Bekasi Sa’dudin membentuk kelompok kerja pembentukan Kabupaten Bekasi Utara, dan melakukan kajian teknis kewilayahan.

Panitia juga meminta pemerintah daerah mengalokasikan dana dari anggaran perubahan tahun 2009. “Kami minta pemerintah daerah pro aktif merealisasikan wilayah baru ini,” kata dia.

Dengan disetujuinya Kabupaten Bekasi Utara, wilayah Bekasi semakin menyusut. Awalnya, Kabupaten Bekasi terdiri dari 23 kecamatan dengan wilayah perbatasan Kota Bekasi (sebelah barat), dan Kabupaten Bekasi (sebelah timur).

Kini, wilayah Kabupaten Bekasi atau disebut wilayah induk terdiri dari 10 kecamatan. Sementara Kabupaten Bekasi Utara ada 13 kecamatan. Sekretaris Panitia Persiapan Pemekaran Kabupaten Bekasi Komaruddin Ibnu Mikam mengatakan wilayah baru sangat potensial. Dari sektor ekonomi, pendapatan dari bagi hasil minyak dan gas bumi dai Blok Tambun dan Pondok Tengah mencapai Rp 20 miliar. 

HAMLUDDIN

Leave a comment

Filed under Uncategorized

ARSITEKTUR PEMBANGUNAN BEKASI UTARA (3):

ARSITEKTUR PEMBANGUNAN BEKASI UTARA (3):

 

Pemekaran Adalah Keniscayaan

 

 

Kembali soal Pemekaran Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.  Ada sejumlah data dari presentasi draft laporan akhir Studi KElayaan Pembentukan Daerah Otonomi Baru yang dilakukan Tim Kajian dan Pemerintah Kabupaten Bekasi, tanggal 9 September 2008 di Hotel Sahid Lippo Cikarang.

Dari segi sosialisasi, survey membuktikan bahwa ada 80% responden menyatakan sudah mendengar adanya rencana pemekaran Kabupaten Bekasi. Pertanyaan Tim Kajian adalah Apakah Bapak/Ibu sudah mendengar keinginan dari beberapa komponen/bagian masyarakat mengenai rencana pembentukan daerah otonom. Hasil ini sungguh menggemberikan. Karena sejarah mencatat betapa sejak lama ALU (ALiansi Utara) mengusulkan pemekaran sebagai salah satu alternatif meningkatkan kesejahteraan.

Berkali-kali ALU melakukan demonstrasi menuntut perhatian lebih Pemda Bekasi terhadap nasib wilayah Utara. Dalam setiap kesempatan itu pula, ALU meneriakan pemekaran. Alasannya jelas, perhatian manusia tidak terlepas dari faktor fisik dan kemampuan. Bagaimana mungkin bisa memperhatikan bila secara fisik saja berjauhan. Rumah dinas di Lippo. Keluar rumah masuk CRV. AC dihidupkan. Panas terik di luar tertutup body CRV. Mobil menggelinding, melintas hotmik mulus bikin hati tulus. Semua jalan yang dilalui mulus sampai lulus  di Pemda. Dijamin semuanya terurus. Bayangkan bila rumah mereka di Tarumajaya. Lubang jalanannya bikin pemilik sedan ngeri. Srosooot…! Kadang chasis mobil harus berderik. Habis jalanan rusak.

Karena itulah ALU demo. Bawa masyarakat Utara yang bosan miskin. Meminta diperhatikan. Berkali-kali minta, berkali-kali pula dicuekin. Ujungnya, tercetuslah ide untuk melakukan pemekaran. Alhamdulillah, tanpa perlu menepuk dada, sejak awal ALU berperan besar dalam mensosialisasikan ide pemekaran.

Dari persoalan tahu dan tidak tahu, responden  yang  menyatakan setuju dengan pemekaran yakni 86%. Sisanya tida setuju. Hal ini disebabkan Pemda saat ini dianggap tidak mampu melayani publik secara maksimal. 53% MENYATAKAN tidak MAMPU! Pemekaran pun dianggap salah satu solusi yang akan memengaruhi pelayanan dari pemda  lebih baik (72%).

Ditinjau dari segi kesiapan masyarakat, responden menyatakan SIAP 80%. Tentu ini akan menjadi semangat optimis untuk menghela pemekaran. Walau stigma Utara sebagai daerah premanisme dan terbelakang tapi publik  yakin dengan kesiapan masyarakat Bekasi untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Dari segi kemendesakan, publik menjawab 65% mendesak. Segera mekarkan!

Untuk waktu pemekaran responden menjawab variatif. 3-5 tahun terbesar (47%), lalu yang mengusulkan lebihd ari 3-5 tahun 31%, diatas 5 tahun 54%.

Nah, nanti bila terjadi pemekaran maka responden memilih SUkatani (33%) diikuti Tambelang (23%), Sukawangi (14%) sisanya untuk Babelan, Sukakarya dan lain-lain. Pemiihan ibukota ini tentu dilanjutkan dengan studi kelayakan dari tim teknis. Sejumlah hal harus diperhitungkan secara matang melalui survey atau penelitian apakah daerah itu cocok untuk menjadi ibukota.   Potensi air, geostrategic, geo politik dan lain-lain.

Hasil Analisis Indokator Tiap Alternatif pemekaran sesuai dengan PP no. 78/2007 menyebutkan bahwa

Alternatif I :

Calon Daerah Induk (10 Kecamatan)

Calon Daerah Pemekaran (13 kecamatan)

Setu

Serang Baru

Cibarusah

Bojongmangu

Cikarang Barat

Cikarang Selatan

Cikarang Pusat

Cikarang Timur

Cikarang Utara

Kedungwarungin

 

 

Cibitung

Tambun Utara

Tambun Selatan

Karang Bahagia

Tambelang

Sukatani

Pebayuran

Sukawangi

Tarumajaya

Babelan

Sukakarya

Cabang BUngin

Muaragembong

 

Alternatif ini skornya sangat ideal, berimbang. Dilihat dari Kependudukan, Kemampuan ekonomi, Potensi Daerah, Kemampuan keuangan, Sosial Budaya dan politik, Luas daerah, Pertahanan dan keamanan, Tingkat kesejahteraan dan rentang kendali. Skor 411 untuk Kabupaten Induk dan 412 untuk Kabupaten Pemekaran. Konfigurasi ini  direkomendasikan oleh Tim.

Sementara alternative IV ditolak dengan komposisi:

  

Calon Daerah Induk (13 Kecamatan)

Calon Daerah Pemekaran (10 kecamatan)

Setu

Serang Baru

Cibarusah

Bojongmangu

Cikarang Barat

Cikarang Selatan

Cikarang Pusat

Cikarang Timur

Cikarang Utara

Kedungwarungin

Tambun Utara

Tambun Selatan

Cibitung

 

 

Karang Bahagia

Tambelang

Sukatani

Pebayuran

Sukawangi

Tarumajaya

Babelan

Sukakarya

Cabang BUngin

Muaragembong

 

Alternative ini bedanya tiga kecamatan yakni Tambun Utara, Tambun Selatan dan Cibitung masuk Kabupaten Induk. Alternatif ini ditolak Tim Kajian.

Hasil analisis diatas berdasarkan PP no. 78/2007. PP ini merupakan revisi dari PP sebelumnya yang lebih longgar.  Kaidah perhitungan, indicator dihitung untuk menyusun indeks komposit pembentukan/penghapusan dan penggabungan daerah otonom yang harus memenuhi persyaratan :

1.    Data tersedia

2.    Mudah dihitung

3.    Relevan

4.    Terukur dan reliable

Ada sejumlah faktor yang dihitung, antara lain : Kependudukan, Keuangan/ekonomi (PDRB non migas, pertumbuhan ekonomi, kontribusi PDRB non Migas), Potensi Daerah (rasio sekolah, bank, kesehatan, dll), Kemampuan keuangan (jumlah PDB, rasionya dengan jumlah penduduk), Sosial budaya, Sosial politik, Luas Daerah, Pertahanan Keamanan, Tingkat kesejahteraan masyrakat, rentang kendali (rata-rata kecamatan ke pusat pemerintahan, rata-rata perjalanan dari kecamatan ke pusat pemerintahan).

Terhitung ada sekita 35 item yang diperhitungkan dan dikaji. Karena itu, pemekaran Kabupaten Bekasi adalah sebuah keniscayaan. [kim]

 

Penulis Komarudin Ibnu Mikam

0818721014

komarmikam.multiply.com

komarmikam@gmail.com

Leave a comment

Filed under Uncategorized

ARSITEKTUR PEMBANGUNAN KABUPATEN BEKASI UTARA (1):

Litbang ALU

Litbang ALU

ARSITEKTUR PEMBANGUNAN KABUPATEN BEKASI UTARA (1):

 

Industri Kreatif

 

Hasil jajak pendapat pemekaran Kabupaten Bekasi telah dipublikasikan. 81 persen dari BPD yang diminta suaranya setuju. Sujud syukur, bahagia dan haru membuncah di hati rakyat Bekasi Utara. Setitik cahaya mulai muncul untuk menerangi kawasan Bekasi Utara. Asa untuk memperbaiki hidup, lepas dari kemiskinan. “Saya sampe gak bisa tidur pak. Kegirangan. Apa yang kita perjuangkan selama ini Alhamdulillah menjadi kenyataan,” ujar Sanusi Nasihun, Presiden ALU (Alian Utara). ALU merupakan lembaga swadaya masyarakat yang konsern menggesa pemekaran sebagai salah satu instrument untuk mengentaskan kemiskinan, memperbaiki kesejahteraan dan mendekatkan pelayanan public kepada masyarakat.

Cukupkah sampai disitu? Tentu tidak. Hasil jajak pendapat bukan akhiran. Ini justru momentum penting untuk merangkai masa depan yang lebih baik. Saatnya sekarang bergandeng tangan, mengumpulkan puing-puing kekuatan untuk membangun ‘tempat kite diberanakin.’ Salah satu prioritas kita adalah mempersiapkan konsep model pembangunan untuk kabupaten Bekasi Utara hasil pemekaran.

Model pembangunan ini idealnya akan menjadi model arsitektur pembangunan kawasan utara yang memiliki karakter khas. Ibarat membangun rumah, kita rencanakan sekarang seperti apa bangunan rumah yang nanti akan kita bangun. Modelnya seperti apa. Pintunya berapa. Jendelanya. Perlukah pendopo. Dan lain-lain. Mulai dari filosofis hingga teknis kita bicarakan dan rencanakan.

Berbeda dengan kawasan lain di Kabupaten Bekasi, kawasan Bekasi Utara secara geografis terletak di pesisir. Masyarakat pinggir laut. Lazimnya, dari sisi historis kita mengenal penduduk di wilayah ini lebih kreatif. Karena interaksi dengan kaum pendatang lebih intens dibanding masyarakat pedalaman yang kebanyakan agraris. Banyak ketemu orang, banyak mengenal logat  suku lain otomatis memberikan warna dan ide baru.  Wajar kemudian sejumlah kerajaan muncul di lokasi pinggir laut.

Salah satu ciri orang pesisir adalah industri kreatif.  Industry yang mengandalkan pada ide dan pemikiran manusia. Berbahan baku inovasi dan mimpi. Bermodalkan apa yang ada di belakang kepala tiap orang. Tempat yang sangat aman sehingga tak ada bisa merampoknya. Dan, the sky is limit. Batasnya langit!

Eit, sebelum berlanjut, saya ingin Anda melupakan potensi Sumber Daya Alam. Bekasi Utara punya minyak, gas dan laut.  Lupakan dulu deh! Berat…kita harus berkelahi dulu untuk mendapatkan proyek-proyek di sana. Bagaimana tidak, selama ini proyek-proyek itu baik main contractor maupun sub-contractor dipegang orang lain.  Yang ngebor saja dari slumberger. Padahal tenaga ahlinya alumni SMA Negeri I Bekasi.

Kembali ke industri kreatif. Mari E. Pangestu terpesona sekali dengan industry kreatif. Ia bahkan menengarai saat ini sebagai momentum kebangkitan industry kreatif. Saat ini ada 14 bidang yang diunggulkan yakni periklanan, arsitektur, barang seni, kerajinan, desain, mode, permainan interkatif, music seni pertunjukan,penerbitan dan percetakan, layanan computer dan piranti lunak, radio dan televise, riset dan pengembangan serta film, video dan fotografi.

Dari ke empat belas poin itu, tentu pesimisme muncul untuk masyarakat Bekasi Utara. “Boro-boro buat animasi, ketemu lap top aje kayak ketemu jin….takjuuub banget…” kata Pak Sanusi lagi.

Namun paling tidak, ada aspek kreatif yang bisa dilakukan untuk kawasan Bekasi Utara. Misalnya begini, dari dulu kawasan ini dikenal sebagai daerah penghasil ikan. Kabarnya, ikan gabus dari Utara sini lebih enak dibanding ikan gabus dari daerah lain. Udang windunya juga bagus. Sayangnya, dari zaman engkong-engkong mereka dulu sampai sekarang mekanisme jualan hasil perikanan sama saja. Cari ikan di laut atau di sungai-dijual. Tidak pernah terdengar ide untuk melakukan pengembangan le bih kreatif. Misalnya budidaya ikan gabus. Kagak pernah ada yang ternak ikan gabus. Padahal ikan satu ini benar-benar jadi ikon. Ia punya status sendiri dalam kelas sosial Bekasi.  Dari namanya saja ia benar-benar beragam. Yang kecil disebut bunciritan, lebih gede disebut kocolan, yang paling gede baru disebut gabus.  Mantap! Dari namanya saja sudah keliatan keistimewaannya.

Masyarakat  boleh kita kritik. Tapi Pemda harus dikritik lebih keras. Kudunya kan, ada penelitian budidaya ikan gabus. Setelah penelitian kemudian ada implementasi, penerapan di lapangan dan penyiapan infrastruktur dan instrument baik tata cara pembenihan, pemberian obat, produksi, transportasi, pengemasan hingga penjualan. 

Hal lain yang bisa diangkat. Betapa kebanyakan petani Bekasi Utara itu menjual mentah. Apa adanya. Tangkap ikan dan jual. Padahal bila diberikan sentuhan pengemasan, ada nilai tambah.

Nah, tulisan ini mudah-mudahan bisa memancing Anda yang peduli dengan masa depan. Yang berpikir bahwa kita sebagai orang yang terdidik bertanggungjawab dengan pengembangan dan pembangunan daerah asal.

Ada yang punya pengalaman?

[edisi selanjutnya akan membahas konsep-konsep lain perencanaan daerah pemekaran baru. Konsep khusus buat daerah khusus. Yang bikin juga orang asli Bekasi.]

 

 

 PENULIS

KOMARUDIN IBNU MIKAM

LITBANG ALU

komaribnumikam@gmail.com

komarmikam.multiply.com

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sanusi Nasihun, Presiden ALU (Aliansi Utara):

Memastikan Kesejahteraan Pemekaran

Memastikan Kesejahteraan Pemekaran

Sanusi Nasihun, Presiden ALU (Aliansi Utara):

 

 

 

 

 

 

PEMEKARAN, SATU-SATUNYA SOLUSI MERAIH KESEJAHTERAAN

Karena masyarakat Bekasi bagian Utara sangat memprihatinkan. Baik ekonomi maupun politik. Menurut saya kemiskinan itu kemiskinan structural yang diciptkan oleh Pemerintahan daerah. Setelah sekian periode, selalu saja membangun infrastruktur pada titik-titik yang lebih berpihak kepada pengusaha atau golongan. Tidak mempertimbangkan kepentingan umat/masyarakat.

Padahal, secara geografis semuanya berpotensi. Ada minyak. Ada laut. Bekasi Utara yang dilola dengan baik. Hanya titik tengah yang lebih diperhatikan. Sekian ribu perusahaan. Sekian kawasan. Hanya mementingkan kapitalis. Yang diterima hanya dampak negative. Pencemaran dari wilayah selatan yang mengalir ke utara. Mematikan infrastruktur ekonomi, pendidikan, social dan budaya. Dan mengapus cita-cita orang Utara.

Dulu, sekitar tahun 1982, ada sebuah harapan besar buat masyarakat Utara setelah  dibangunnya sungai CBL (Cikarang BEkasi Laut). Sebagai kali buatan atau kali pembuang antara sungai Bekasi dan Cikarang yang bermuara di CBL. Kali ini berfungsi untuk pembuangan. Agar Bekasi Utara lepas dari ancaman banjir. Dan juga memberikan tambahan pendapatan hasil tangkapan ikan/udang karena memang ikan laut  masuk ke kali tersebut. Akan tetapi ternyata, setelah sekian tahu fungsi CBL beralih fungsi jadi pembuangan limbah. Yang mengalir dari kali Bekasi dan kali CIkarang. Ikan pun ogah mampir ke situ. Ekosistem sungai ancuuur…! Kegembiraan pun berubah jadi bencana.

 Rupanya penzoliman terhadap lingkungan yang disebut limbah B3 cair terus berlanjut sampai saat ini. Menghitamkan air CBL. Apa yang diperbuat oleh pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup kecuali upeti sebagai kompensasi. Dan mudah-mudahan doa orang yang dizolimi terkabul untuk para pejabat yang menzolimi biar pada punya anak pada bisulan dan bapaknya pada stroke…Tidak terkendali. Menghancurkan infrastruktur BEkasi Utara.

Sebuah contoh kecil, di Muara Kali CBL ada Kampung Sembilangan. Dulu, kampung yang benar-benar makmur karena hasil laut. Udang galah dulu besarnya bisa 0,5kg satu ekornya. Belom lagi ikan kakap ada yang mencapi 8 kg/ekor. Belum lagi ikan-ikan lain. Dan itu sudah mampu membangun kampung. TANPA APBD! Prestasinya bahkan sudah ada yang menjadi atLet bulutangkis.

Karena itulah ALU menggesa pemekaran. Itu satu-satunya solusi untuk menjawab tantangan zaman dan mempersiapkan generasi baru, masyarakat baru. ALU berjihad fi sabililah untuk menghindari terjadinya lost of generation. Pemekaran menjadi jalan terang untuk mengubah nasib. Kemiskinan akan dientaskan dengan pemekaran. []

BEKASI CYBER PARK, 15/10/2008

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized