ARSITEKTUR PEMBANGUNAN KABUPATEN BEKASI UTARA (1):

Litbang ALU

Litbang ALU

ARSITEKTUR PEMBANGUNAN KABUPATEN BEKASI UTARA (1):

 

Industri Kreatif

 

Hasil jajak pendapat pemekaran Kabupaten Bekasi telah dipublikasikan. 81 persen dari BPD yang diminta suaranya setuju. Sujud syukur, bahagia dan haru membuncah di hati rakyat Bekasi Utara. Setitik cahaya mulai muncul untuk menerangi kawasan Bekasi Utara. Asa untuk memperbaiki hidup, lepas dari kemiskinan. “Saya sampe gak bisa tidur pak. Kegirangan. Apa yang kita perjuangkan selama ini Alhamdulillah menjadi kenyataan,” ujar Sanusi Nasihun, Presiden ALU (Alian Utara). ALU merupakan lembaga swadaya masyarakat yang konsern menggesa pemekaran sebagai salah satu instrument untuk mengentaskan kemiskinan, memperbaiki kesejahteraan dan mendekatkan pelayanan public kepada masyarakat.

Cukupkah sampai disitu? Tentu tidak. Hasil jajak pendapat bukan akhiran. Ini justru momentum penting untuk merangkai masa depan yang lebih baik. Saatnya sekarang bergandeng tangan, mengumpulkan puing-puing kekuatan untuk membangun ‘tempat kite diberanakin.’ Salah satu prioritas kita adalah mempersiapkan konsep model pembangunan untuk kabupaten Bekasi Utara hasil pemekaran.

Model pembangunan ini idealnya akan menjadi model arsitektur pembangunan kawasan utara yang memiliki karakter khas. Ibarat membangun rumah, kita rencanakan sekarang seperti apa bangunan rumah yang nanti akan kita bangun. Modelnya seperti apa. Pintunya berapa. Jendelanya. Perlukah pendopo. Dan lain-lain. Mulai dari filosofis hingga teknis kita bicarakan dan rencanakan.

Berbeda dengan kawasan lain di Kabupaten Bekasi, kawasan Bekasi Utara secara geografis terletak di pesisir. Masyarakat pinggir laut. Lazimnya, dari sisi historis kita mengenal penduduk di wilayah ini lebih kreatif. Karena interaksi dengan kaum pendatang lebih intens dibanding masyarakat pedalaman yang kebanyakan agraris. Banyak ketemu orang, banyak mengenal logat  suku lain otomatis memberikan warna dan ide baru.  Wajar kemudian sejumlah kerajaan muncul di lokasi pinggir laut.

Salah satu ciri orang pesisir adalah industri kreatif.  Industry yang mengandalkan pada ide dan pemikiran manusia. Berbahan baku inovasi dan mimpi. Bermodalkan apa yang ada di belakang kepala tiap orang. Tempat yang sangat aman sehingga tak ada bisa merampoknya. Dan, the sky is limit. Batasnya langit!

Eit, sebelum berlanjut, saya ingin Anda melupakan potensi Sumber Daya Alam. Bekasi Utara punya minyak, gas dan laut.  Lupakan dulu deh! Berat…kita harus berkelahi dulu untuk mendapatkan proyek-proyek di sana. Bagaimana tidak, selama ini proyek-proyek itu baik main contractor maupun sub-contractor dipegang orang lain.  Yang ngebor saja dari slumberger. Padahal tenaga ahlinya alumni SMA Negeri I Bekasi.

Kembali ke industri kreatif. Mari E. Pangestu terpesona sekali dengan industry kreatif. Ia bahkan menengarai saat ini sebagai momentum kebangkitan industry kreatif. Saat ini ada 14 bidang yang diunggulkan yakni periklanan, arsitektur, barang seni, kerajinan, desain, mode, permainan interkatif, music seni pertunjukan,penerbitan dan percetakan, layanan computer dan piranti lunak, radio dan televise, riset dan pengembangan serta film, video dan fotografi.

Dari ke empat belas poin itu, tentu pesimisme muncul untuk masyarakat Bekasi Utara. “Boro-boro buat animasi, ketemu lap top aje kayak ketemu jin….takjuuub banget…” kata Pak Sanusi lagi.

Namun paling tidak, ada aspek kreatif yang bisa dilakukan untuk kawasan Bekasi Utara. Misalnya begini, dari dulu kawasan ini dikenal sebagai daerah penghasil ikan. Kabarnya, ikan gabus dari Utara sini lebih enak dibanding ikan gabus dari daerah lain. Udang windunya juga bagus. Sayangnya, dari zaman engkong-engkong mereka dulu sampai sekarang mekanisme jualan hasil perikanan sama saja. Cari ikan di laut atau di sungai-dijual. Tidak pernah terdengar ide untuk melakukan pengembangan le bih kreatif. Misalnya budidaya ikan gabus. Kagak pernah ada yang ternak ikan gabus. Padahal ikan satu ini benar-benar jadi ikon. Ia punya status sendiri dalam kelas sosial Bekasi.  Dari namanya saja ia benar-benar beragam. Yang kecil disebut bunciritan, lebih gede disebut kocolan, yang paling gede baru disebut gabus.  Mantap! Dari namanya saja sudah keliatan keistimewaannya.

Masyarakat  boleh kita kritik. Tapi Pemda harus dikritik lebih keras. Kudunya kan, ada penelitian budidaya ikan gabus. Setelah penelitian kemudian ada implementasi, penerapan di lapangan dan penyiapan infrastruktur dan instrument baik tata cara pembenihan, pemberian obat, produksi, transportasi, pengemasan hingga penjualan. 

Hal lain yang bisa diangkat. Betapa kebanyakan petani Bekasi Utara itu menjual mentah. Apa adanya. Tangkap ikan dan jual. Padahal bila diberikan sentuhan pengemasan, ada nilai tambah.

Nah, tulisan ini mudah-mudahan bisa memancing Anda yang peduli dengan masa depan. Yang berpikir bahwa kita sebagai orang yang terdidik bertanggungjawab dengan pengembangan dan pembangunan daerah asal.

Ada yang punya pengalaman?

[edisi selanjutnya akan membahas konsep-konsep lain perencanaan daerah pemekaran baru. Konsep khusus buat daerah khusus. Yang bikin juga orang asli Bekasi.]

 

 

 PENULIS

KOMARUDIN IBNU MIKAM

LITBANG ALU

komaribnumikam@gmail.com

komarmikam.multiply.com

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s